🌘 Suatu malam, aku disidang oleh keluargaku. Tragedi 3 tahun silam terulang kembali. Hijabku di bakar malam itu, setelah semua keluarga memojokkan aku di sudut yang gelap, yang kulihat hanyalah kehinaan di sana.
🗯️🔥 Berbagai ancaman dilontarkan. Entah, malam itu lidahku terasa kelu. Aku tak mampu menjawab, membela agama yang mereka permainkan. Hatiku sakit mendengar syariat ini dihinakan. Tapi Ya Rabb..., saat itu aku tak kuasa membela syariat-Mu. Malam itu, wajahku hanya tertunduk memendam kekhawatiran terhadap keselamatan jiwaku. Aku tahu orang tuaku sangat sayang padaku. Tapi ketika mereka terbawa emosi, terkadang tangan pun ikut berbicara.
💥🌒 Malam yang menakutkan. Air mata pun tak kuasa kutahan. Aku tak sanggup untuk mengungkapkan rasa hatiku. Yang pasti, ada takut, kecewa, benci, dan sayang pada keluargaku.
🏚️ Masalah semakin rumit. Aku dikurung di rumah. HP, laptop sebagai sarana mendengarkan ta'lim, dan sepeda motor disita orang tuaku. Aku pun bertahan di rumah. Aku laksanakan tugas-tugasku sebagai anak sebagaimana mestinya. Hampir sepekan berlalu, orangtuaku mulai melunak. Fasilitas-fasilitas tersebut dikembalikan kepadaku. Mereka berharap, aku mau menuruti mereka.
Ketegangan mulai mereda. Orang tuaku bertambah lunak kepadaku. Terpikir dalam benakku untuk menikah. Kuberanikan diri untuk mengutarakan keinginan tersebut kepada mereka. Namun, mereka melarangku menikah jika aku tidak mau bekerja sesuai keinginan mereka. Aku tak mau menyerah begitu saja. Aku tetap berusaha, dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Aku mantapkan untuk proses dengan seorang ikhwan. Tapi, قدر اللَّه وما شاء فعل... apa-apa yang Allah takdirkan tidak untuk kumiliki, tidak akan pernah kumiliki. Ketika ikhwan tersebut datang ke rumah, orang tuaku menolak itikad baiknya.
🗯️💥 Setelah ikhwan tersebut pulang, aku didiamkan. Orang tuaku marah besar. Setelah kejadian itu, bapak jatuh sakit. Qaddarallah, gara-gara keinginanku menikah dengan ikhwan SALAFY. Lalu bapak angkat bicara. Bapak mengatakan, "Aku tak kan pernah menikahkanmu dengan seorang SALAFY."
Aku diam terpaku. Dalam hatiku selalu memohon pada Allah, semoga Allah menguatkan hatiku menghadapi semua ini.
Aku bertahan dengan kondisi seperti itu. Meskipun terkadang aku merasa tidak kuat. Tapi itu semua harus ku hadapi. Sebulan berlalu, orang tuaku kembali menyuruhku untuk kerja di tempat ikhtilat. Kali ini mereka lebih gencar menyuruhku. Meskipun dengan rasa takut, ku beranikan diri untuk menolak. Ibuku mogok makan karenanya. Alhamdulillah, hanya karena pertolongan Allah, hal itu cuma berlangsung sehari. Mereka mendiamkanku kembali.
Beberapa kali orang tuaku menyuruhku untuk meninggalkan rumah, jika aku tetap tak mau menuruti mereka. Meski demikian aku tetap di rumah. Aku mencoba mengambil hati kedua orang tuaku dengan ikut membantu menjadi pengajar di sebuah TK SALAFY di kotaku. Meskipun ibuku tidak suka, aku tetap bertahan di situ.
🛤️ Perjalanan kehidupan yang penuh warna. Aku tak bosan selalu berdoa kepada Allah, agar selalu ditolong dan dijaga agamaku. Dengan sarana laptop, aku mencoba memenuhi kebutuhan hatiku akan ilmu agama. Dengan mendengarkan rekaman ta'lim yang dulu kuperoleh dari kota pelajar. Aku pun selalu meminta nasihat dari orang-orang yang ku anggap berilmu. Untuk memberikan bimbingan dalam menghadapi rumitnya permasalahan dengan kedua orang tuaku.
Sebulan berlalu, aku kembali mendapatkan tawaran untuk berproses kembali dengan seorang ikhwan. Pengalaman yang dulu, mengajarkan kepadaku untuk lebih berhati-hati mengutarakan perihal pernikahan kepada kedua orang tua.
Doa tak henti-hentinya ku panjatkan kepada Rabb semesta alam. Lalu, kami pun menempuh sebab-sebab syar'i agar orang tuaku setuju.
🤝🏻 Jika memang jodoh, pasti Allah mudahkan. Jika bukan jodohku, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Itulah yang senantiasa aku tanamkan dalam hatiku. Berusaha menyandarkan semua pada Allah, karena kusadar lemahnya diriku.
🏡☀️ Tibalah hari yang kami rencanakan. Waktu lamaran yang menegangkan. Dengan pertolongan Allah, datang lah ikhwan SALAFY -insyaAllah- bersama kedua orang tuanya ke rumahku. Sungguh Allah Maha mampu atas segala sesuatu. Orang tuaku menerima lamaran tersebut. Dan sebulan setelah itu, aku menikah dengan ikhwan yang sekarang menjadi suamiku.
☝🏻 Segala puji hanya bagi Allah semata. Kehidupan ini tidak tetap dalam satu keadaan. Setelah tangis akan berganti dengan tawa. Setelah kesedihan, akan berganti dengan kegembiraan.
☝🏻 Selalu ada kemudahan dalam setiap kesukaran. Roda Kehidupan terus berputar. Allah Maha hikmah dalam menetapkan segala sesuatunya.
📝 Ibnul Qayyim رحمه الله mengisahkan,
"Suatu saat, Syaikhul Islam رحمه الله berkata kepadaku, "Rintangan dan cobaan ibarat cuaca panas dan dingin. Maka jika seorang hamba mengetahui bahwa ia pasti mengalami keduanya, niscaya ia tidak akan marah saat didatanginya, tidak akan gelisah karenanya maupun bersedih hati."
[Madarijus Salikin 3/389]
🌏📕 Sumber ||
https://www.atsar.id/2019/01/kisah-ujian-ketika-awal-mengenal-salafy.html?m=1
Majalah Qudwah Edisi 06
https://t.me/syarhussunnahlinnisa/29084

Komentar
Posting Komentar