π¦ Banyak air mata tertumpah mewarnai hari-hariku. Aku bingung. Aku tak mau menanggalkan hijabku, apalagi kehilangan hidayah ini. Ku lantunkan doa di setiap waktu. Memohon petunjuk dan kekuatan pada Dzat Yang Menguasai qalbu.
π Akhirnya, kuberanikan diri untuk memilih tetap kuliah di kota pelajar, dengan menerima persyaratan pindah ke kos umum. Tapi masalah hijab, aku hanya mengatakan, "... Akan ku coba wahai ayah ibuku..."
☝π» Sungguh pertolongan Allah sangat dekat. Allah menuntunku untuk tinggal di kos umum, yang di situ diadakan kajian sehari minimal 2 kali. Hatiku riang tak terkira. Dengan segala upaya, aku meminta pada orang tuaku agar aku bisa tinggal di situ.
Alhamdulillah, orangtuaku mengizinkan. Mereka tidak tahu bahwa di situ aku lebih bisa intensif menuntut ilmu agama. Kira-kira sebulan berlalu, setiap pekan aku harus pulang. Setiap saat orang tua mengecek keberadaanku via telpon.
Bulan berikutnya, Ibuku beserta kakak-kakakku datang menjengukku. Mereka mengetahui bahwa aku tak berubah. Bahwa aku masih memakai hijabku. Ibuku marah. Ibuku mengambil seluruh hijabku & menggantinya dengan pakaian yang tak sesuai syar'i. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis, tak bisa berbuat apa².
Ibuku dan kakakku kembali ke rumah. Aku masih menangis dalam kamarku. Aku buka lemari pakaianku. Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku bersyukur pada Allah, dengan pertolongan-Nya, masih tersisa sepasang hijabku yang tak terbawa oleh ibuku.
π Pekan berikutnya aku pulang kerumah. Terpancar kemarahan yang mendalam dari orangtuaku. kepulanganku disambut dengan sikap yang dingin. Seakan-akan aku bukan anak mereka lagi. Ibuku marah.
π₯ Di depan mataku hijab-hijabku dibakar. Laa haula wala quwwata illa billah... Aku terdiam membisu. Orangtuaku memaksaku untuk berjanji menanggalkan hijab. Aku bingung. Aku tak bisa berjanji. Hari itu, kuputuskan untuk tidak menuruti perintah mereka. Juga berhenti kuliah, dan memilih tinggal di rumah. Orangtuaku marah besar. Akupun didiamkan, tak dianggap sebagai anak.
π¬ Baru berlalu 2 hari, orang tuaku angkat bicara. Ayahku berkata, "Aku tidak bisa melihatmu hanya di rumah. Silakan tinggal di rumah kakakmu ❗"
Jika tinggal di tempat kakak, di sana ada mas ipar. Aku pun memberanikan diri untuk meminta kembali kuliah. Masalah hijab, aku hanya bisa mengucapkan, "...Aku coba..." Aku pun kembali kuliah di kota pelajar.
π¦ Sejak saat itu, orang tua dan keluargaku bersikap dingin kepadaku. Aku merasa seperti anak tiri di rumahku sendiri. Tak kurasakan lagi kehangatan kasih sayang dari mereka. Aku mencoba tetap bertahan dalam kondisi seperti itu. Aku tetap menunjukkan baktiku kepada orang tuaku, dan menjaga muamalah dengan keluargaku.
ππ Di kota pelajar, aku tak mau menyia -nyiakan waktu. Kugunakan kesempatan itu untuk meraup ilmu agama sebanyak-banyaknya, semampuku. Meskipun aku merasa baru sedikit yang ku dapatkan, karena waktu masih terbagi dengan kuliah. Kuliah..., secara lahir aku datang ke kampus. Tapi aku hampir tak pernah belajar. Sebenarnya, aku sudah tak sanggup menginjakkan kaki di kampus. Tapi kuliahlah satu-satunya alasan, agar aku bisa tetap tinggal di kota pelajar. Di mana di kota ini, aku bisa menuntut ilmu agama dan menghindar sejenak dari pertentangan dengan orang tuaku.
☀️π Waktu pun terus berlalu. Tibalah masa studiku hampir selesai. Dengan kepayahan yang sangat, aku berusaha menyelesaikan skripsi. Tugas akhir yang banyak hambatan di dalamnya. Kesabaranku terus diuji. Dosenku susah sekali untuk ditemui. Hampir 1 tahun waktuku menyelesaikan skripsi. kelulusan pun berhasil kuraih. Sejenak lega, ibarat sebuah batu besar yang menyesakkan dada telah ku singkirkan.
π‘ππ¨π¨ Mengetahui sudah lulus, aku pun segera disuruh pulang. Pergolakan dimulai kembali. Karena aku tidak mau untuk mengikuti wisuda. Orang tuaku marah besar. Ditambah lagi, berkali-kali aku menolak ketika disuruh kerja di tempat ikhtilat. Hari² yang tak mudah kulalui. Hampir setiap hari orang tuaku marah & menangis.
⬇️ (2)
https://t.me/syarhussunnahlinnisa/29083

Komentar
Posting Komentar