🏭 Di kota industri, aku memulai hidup baru. Menata hati, melangkahkan kaki. Mengukir kehidupan yang baru dengan sang suami tercinta.
💧 Terbayang olehku, masa ketika aku masih sendiri meniti jalan terjal ini. Memperjuangkan setitik hidayah yang bagiku bagaikan gunung emas, bahkan lebih. Nilainya sangat berharga, tapi berat harus kubawa dengan tubuhku. Tapi, berkat pertolongan Allah semata, gunung emas itu masih bisa ku jaga untuk ku miliki.
🛤️ Perjuangan yang panjang bagiku...
🏫 Masa-masa SMA yang penuh warna. Terselip hal-hal yang baru dalam kehidupanku. Aku menjadi salah satu pengurus dari organisasi keagamaan di sekolahku. Berawal dari semangat untuk mencari ilmu agama, aku berusaha aktif mengikuti kegiatan. Meskipun ruang gerakku sangat terbatas karena tanggung jawab di keluargaku.
Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, kemudian sebab berorganisasi itulah aku mengenal dakwah SALAFY yang begitu indah. Sejak itulah cara berpakaianku mulai berubah. Aku mulai malu untuk memakai jilbab kecil, jilbab yang tidak menutup sempurna auratku. Sehingga ku mencoba memakai jilbab yang besar dan lebar.
🗯️ Tapi ternyata orangtuaku menilai buruk perubahanku. Mereka pun menganggapnya aneh dan asing, melawan arus, tidak sebagaimana keumuman orang. Sehingga aku sering dimarahi karenanya.
الله المستعان.
Waktu terus bergulir. Aku pun lulus SMA. Aku bingung melangkah hendak kemana setelah ini❓Aku dulu tak paham, begitu bahaya ikhtilat, campur baur antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya aku mantapkan langkahku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. الحمد لله على كل حال, aku diterima di salah satu universitas di kota pelajar.
🚗 Awal menginjakkan kaki di kota pelajar, aku bingung ke mana bisa menuntut ilmu agama. Hampir setengah tahun aku berada dalam kehampaan hati. Kering tanpa siraman ilmu agama. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah, kemudian lewat kakak tingkat, aku mengetahui tempat ta'lim. Sebuah masjid di tengah keramaian kota dan hiruk pikuknya mahasiswa mencari gelar sarjana.
Tak selang lama, aku diajak kakak tingkat untuk berkunjung ke wisma akhwat SALAFY. Aku pun tertarik untuk tinggal disana. Hari-hari yang menyenangkan, hidup satu atap dengan akhwat yang berilmu dan berusaha mengamalkan ilmunya.
Dari sanalah aku belajar memakai hijab yang syar'i. Kini, ke manapun pergi, aku kenakan pakaian muslimah ini. Ke kampus, atau ketika keluar dari wisma, dan kemana saja.
🏫 Pertama kali ke kampus memakai cadar, setelah itu, aku disuruh menghadap ke Penasehat Akademik. Rasa takut menyelimuti, ku pasrahkan semua pada Allah semata. Disana aku banyak di ceramahi. Pada intinya, aku dilarang menggunakan cadar di kampus. 💦
🌤️ Hari-hari yang tak mudah ketika memakai cadar di kampus. Banyak cercaan dari mahasiswa, teman-teman pun enggan untuk mendekat. Beberapa dosen juga menjadi tak ramah. Meskipun demikian, masih kurasakan pertolongan Allah yang sangat dekat. Di beberapa mata kuliah, aku mendapatkan kemudahan mempertahankan cadarku.
🌙 Waktu terus berjalan, teman-teman mulai bisa menerima keadaanku. Bahkan, mereka malah dekat denganku dari sebelumnya.
🏘️ Genap delapan bulan aku tinggal di wisma akhwat. Tiba suatu hari yang tak kusangka. Orangtuaku tahu bahwa di kota pelajar, aku memakai cadar.
🔥 Meledaklah kemarahan mereka. Melalui telepon aku langsung disuruh pulang. Dengan ditemani sepeda motor kesayanganku, kutelusuri jalan sambil menangis menuju kampung halamanku. Kepulanganku disambut kemarahan dan tangis dari kedua orangtuaku. Tak sedikitpun mereka mau mendengar penjelasanku. Aku divonis bersalah, ikut aliran sesat.
💦 Kala itu, aku hanya diberikan dua pilihan. Tetap kuliah di kota pelajar, dengan menanggalkan hijabku dan harus pindah dari wisma akhwat ke kos umum, atau pindah kuliah di kampung halamanku. Tentunya dengan menanggalkan hijabku.
⬇️ (1)
https://t.me/syarhussunnahlinnisa/29082

Komentar
Posting Komentar